Jadilah Seorang Pemaaf
Siapa Memaafkan Disaat Mampu Membalas, Baginya Surga
ALKISAH
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wassallam ketika beliau pergi ke Thaif untuk berdakwah. Alih-alih berharap penduduk
menerima dakwah beliau, tapi sikap kurang ajar justru ditunjukkan kepada
kekasih Allah Subhanahu Wata’ala ini. Mereka justru mencemooh bahkan menyuruh
anak-anak kecil melempari Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam
yang saat itu ditemani Zaid bin Haritsah. Aqiqah Surabaya
Tentu saja hal itu menambah
kesedihan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Di saat sulit seperti itu
tiba-tiba datang Malaikat Jibril bersama malaikat penjaga gunung. Jibril
berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.
“Sesungguhnya Allah telah
mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu dan penolakan mereka kepadamu.Dan
Allah juga telah mengutus kepada malaikat penjaga gunung untuk melakukan apa
saja yang engkau kehendaki!”. Maka Malaikat penjaga gunung pun berkata Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wassallam., “Wahai Muhammad, kalau engkau berkenan aku akan
menimpakan Al-Akhbasain (dua gunung besar yang ada di Makkah, yaitu gunung Abu
Qubais dan Gunung Al-Ahmar) kepada mereka.”
Namun tak disangka, jawaban
Nabiullah Muhammad justru sebaliknya;
لَا بَلْ أَرْجُوْ أَنْ يُخْرِجَ
اللهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ وَحْدَهُ، وَلَا يُشْرِكُ ِبهِ
شَيْئًا
“Tidak, bahkan aku berharap
agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah
dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun juga.” [HR.
Muslim]
***
Begitulah
pribadi Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam, tauladan umat Islam
sedunia.
Betapa besar kasih sayang
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam kepada umatnya. Bayangkan jika yang
menemani itu adalah kita, betapa sakit dan marahnya perasaaan Zaid bin Haritsah
ketika Nabi dicerca dan dilempari batu oleh penduduk Thaif?
Untungnya yang menjadi Rasul
adalah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Coba seandainya kita, mungkin
sudah memerintahkan malaikat mengangkat gunung.
Itulah gambaran sifat pemaafnya
Rasulullah Shallallahu “Alaihi Wassallam, meski beliau disakiti dan dianiaya
oleh umatnya sendiri.
Amalan Berat
Pemaaf adalah sifat yang sangat
terpuji yang Allah sifatkan kepada hamba-hamba-Nya yang bertaqwa. Karena
beratnya amalan ini, sehingga Allah Subhanahu Wata’ala mengutip secara khusus
dalam Surat Ali Imron ayat 133-134;
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ
مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ
لِلْمُتَّقِينَ ﴿١٣٣﴾ الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّـهُ يُحِبُّ
الْمُحْسِنِينَ ﴿١٣٤
“Dan bersegeralah kamu
kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan
bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang
menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang
yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai
orang-orang yang berbuat kebajikan.”
Sudah jamak dalam kehidupan
kita, meminta maaf dan memaafkan adalah pekerjaan yang maha berat. Meski sudah
menyadari kesalahan namun meminta maaf kepada mereka yang telah didzalimi dan
disakiti bukan perkara yang mudah.
Ada semacam ego atau gengsi
yang mencegah seseorang untuk mengatakan, “Aku minta maaf, aku telah bersalah.”
Terkadang orang lebih suka
melakukan apa pun yang lebih sulit daripada meminta maaf. Dan ini merupakan
salah satu bentuk kesombongan karena ia merasa sedemikian mulia sehingga malu
dan tidak bersedia untuk minta maaf.
Sebaliknya, meski bisa menahan
sakit akibat kedzaliman orang lain, memberi maaf juga bukan perkara yang mudah.
Ada semacam rasa sakit yang tergores yang seakan-akan tidak bisa lepas dari
ingatan dan akan senantiasa membekas.
Padahal Islam mengajarkan
kepada kita untuk menjadi pribadi yang berlapang dada dan pemaaf.
Sebagaimana yang pernah disinggung oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wassallam bahwa manusia adalah tempat salah dan dosa. Memberi maaf orang atas
kesalahan yang mungkin tidak disengajanya termasuk keutamaan tersendiri bagi
orang yang tersakiti. Rasululllah bersabda,
ثَلَاثٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ
اللَّهُ عَبْداً بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلّهِ إِلاَّ
رَفَعَهُ اللَّهُ
“Ada tiga golongan yang berani bersumpah untuknya, tidaklah berkurang harta karena shodaqoh, dan tidaklah menambah bagi seorang pemaaf melainkan kemulyaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu’ (rendah hati) melainkan akan diangkat derajatnya oleh Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR.Tirmidzi)
Janji Allah, siapa yang
memaafkan disaat dia mampu membalas, ia akan meraih Surga Allah.
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُشْرَفَ لَهُ
الْبُنْيَانُ ، وَتُرْفَعَ لَهُ الدَّرَجَاتُ فَلْيَعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَهُ ،
وَلْيُعْطِ مَنْ حَرَمَهُ ، وَلْيَصِلْ مَنْ قَطَعَهُ ”
“Barangsiapa yang ingin
dibangunkan baginya bangnan di Surga, hendaknya ia memafkan orang yang
mendzaliminya, memberi orang yang bakhil padanya dan menyambung silaturahmi
kepada orang yang memutuskannya.” (HR. Thabrani).*/Imron Mahmud Aqiqah Surabaya


Komentar
Posting Komentar